Jumat, 27 Desember 2024

Kampung kuta yang terletak di Tambaksari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat merupakan salah satu perkampungan yang hingga kini tetap mempertahankan tradisi dan kearifan lokal. Namun, dengan laju modernisasi yang cepat dan tuntutan ekonomi, kampung ini menghadapi tantangan dalam menjaga keaslian budaya dan lingkungan mereka


Salah satu masalah utama yang dihadapi Kampung Adat Kuta adalah tekanan dari Pembangunan yang bisa menyebabkan pergeseran nilai-nilai tradisional dan degradasi lingkungan. Peningkatan kunjungan wisatawan, meskipun memberikan keuntungan ekonomi, justru sangat beresiko menimbulkan kerusakan ekosistem hutan larangan dan mengubah pola kehidupan Masyarakat. Selain itu keterbatasan akses ke teknologi dan sumber daya ekonomi modern membuat Masyarakat Kampung Kuta sulit memaksimalkan potensi mereka, seperti dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya secara berkelanjutan.


jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kampung Adat Kuta meningkat setiap tahunnya, dengan kenaikan rata-rata sebesar 15%. Sektor pariwisata ini menghasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat, namun belum sepenuhnya terkelola dengan baik untuk mendukung keberlanjutan jangka panjang. Selain itu, data dari pemerintah daerah mengungkapkan bahwa sekitar 70% wilayah kampung terdiri dari hutan larangan yang sangat penting untuk keseimbangan lingkungan, tetapi rentan terhadap eksploitasi jika tidak dilindungi dengan strategi yang memadai.




Sumber : Wikipedia.com

Mengenai asal-usul Kampung Kuta, dalam beberapa Dongeng Buhun, yang tersebar dikalangan masyarakat Sunda sering disebut adanya Negara Burung atau daerah yang tidak jadi / batal menjadi Ibu Kota Galuh. Daerah ini dinamai Kuta Pandak. Masyarakat Ciamis dan sekitarnya menganggap Kuta Pandak adalah Kampung Kuta di Desa Karangpaningal sekarang. Masyarakat Cisaga menyebutnya dengan nama Kuta Jero. Dongeng tersebut ternyata mempunyai kesamaan cerita dengan asal-usul Kampung Kuta. Masyarakat mengangap dan mengakui dirinya sebagai keturunan Raja Galuh dan keberadaannya di Kampung Kuta ini sebagai penunggu atau penjaga kekayaan Raja Galuh. Asal-usul Kampung Kuta tidak diketahui secara pasti. Saat ini ada beberapa versi tentang sejarah Kampung Kuta yang diturunkan oleh kuncen di kampung kuta. Ada 2 versi tentang sejarah Kampung Kuta yaitu dimulai pada masa kejayaan Kerajaan Galuh dan masa kerajaan Kerajaan Cirebon.

Sumber : medcom.id

Masyarakat Kampung Kuta sangat patuh pada keyakinan mereka. Seluruh masyarakat Kuta membangun rumah adat berupa rumah panggung beratapkan daun ijuk dan kirai. ara membangun rumah harus sesuai amanah karuhun (nenek moyang). Ketentuan utamanya, harus rumah panggung, harus persegi panjang, harus berpasangan dan jangan menggunakan bahan baku seperti tembok dan bahan lain buatan manusia. Ketua Adat Kampung Kuta, Warsim Setiaman (52 tahun) mengatakan, di Kampung Kuta terdapat 117 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 285 jiwa. Menurutnya, mata pencaharian masyarakat kampung sejak dulu sampai saat ini tidak mengalami banyak perubahan.

Sumber : Antara foto

BTemplates.com

Popular Posts

Blog Archive